Senin, 21 Mei 2018

Padang Lamun Rumah Duyung, untuk Kita


Padang Lamun Rumah Duyung, untuk Kita
Oleh Gabriella Sitorus


Indonesia merupakan negara yang kaya dengan banyak sekali keanekaragaman di dalamnya. Alam yang dimiliki negara kita ini sangat indah. Salah satunya adalah padang lamun. Pernahkan Anda mendengar padang lamun sebelumnya? Menurut World Wildlife Fund (WWF), bangsa Indonesia masih banyak yang belum terpapar degan pengetahuan akan padang lamun ini sendiri, sekitar 92% responden bekum tahu akan keberadaan lamun. Lantas apa itu padang lamun? Padang lamun merupakan ekosistem khas di laut dangkal pada perairan hangat dengan dasar pasir dan didominasi tumbuhan lamun, sekelompok tumbuhan anggota bangsa Alismatales yang beradaptasi di air asin. Padang lamun juga bisa berarti  tempat penyu mencari makan, biasanya di daerah pantai yang berhutan bakau. Ekosistem  pesisir pada dasarnya terdiri  atas  3  komponen  penyusun  yaitu  lamun, terumbu  karang  serta  mangrove. Memang lamun tidak seterkenal terumbu karang dan mangrove. Padahal ketiganya bersama-sama menciptakan wilayah pesisir menjadi daerah yang relatif sangat subur dan produktif. Lamun sangat berperan penting  pada fungsi-fungsi biologis dan fisik dari lingkungan pesisir.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Indonesia masih memiliki berbagai masalah lingkungan dan salah satu penyebabnya adalah ulah manusia. Padang lamun pun menjadi ekosistem yang terancam. Padahal, padang lamun memiliki peran yang penting terhadap keberlangsungan makhluk hidup lainnya. Menurut McRoy   &   Hefferich   (1977), padang lamun di daerah  tropis merupakan ekosistem alam yang paling produktif. Padang lamun berfungsi sebagai penahan gelombang, menangkap dan menetabilkan sedimen agar air menjadi lebih jernih, dan sebagai tempat tinggal berbagai jenis ikan. Padang lamun juga ternyata dapat mengurangi laju perubahan iklim. Karbon dioksida dapat ia serap dengan baik. Menurut LIPI yang dilansir dari lipi.go.id, padang lamun ini juga mampu menyerap karbon hingga 5.446 Mg per tahun dengan analogi satu hektar lamun dapat menyerap racun yang terpapar bebas di udara dari hasil pembakaran 800 ribu puntung rokok. Sungguh menakjubkan!
Duyung dapat hidup sampai usia tua, yang tertua di teliti pada saat kematiannya adalah 73 tahun (Marsh et al., 2002). Walaupun dengan kondisi habitat yang ideal untuk proses reproduksi, peningkatan populasi duyung tidak akan lebih dari 5% per tahun.  Ini sangat riskan bagi duyung untuk mengalami eksploitasi. Penelitian menunjukkan bahwa duyung tersebar di berbagai lokasi di Indonesia, seperti Maluku, Teluk Balikpapan, Biak, Pulau Lembata, Nusa Tenggara, dll. Duyung sendiri dapat tinggal di padang lamun karena mengandung sumber makanan. Di padang lamun, duyung-duyung daoat berinteraksi dan memperoleh makanan berupa daun dan rizoma lamun, terutama jenis pionir dari genus Halophila dan Halodule. Pada proses pengolahan makanan, duyung terlihat mengacak-acak dasar lamun. Ternyata ini membuat padang lamun menjadi lebih subur. Hubungan yang saling menguntungkan antara padang lamun dan duyung menunjukkan bahwa ini dapat menjadikan keseimbangan ekologis flora dan fauna di sekitar padang lamun.
Apa jadinya jika padang lamun benar-benar rusak dan tercemar? Kegiatan manusia banyak sekali yang mengancam kelangsungan ekosistem lamun. Banyak sekali wilayah lamun Indonesia yang sudah terancam. Aktivitas manusia seperti penggunaan air berlebihan, penggundulan hutan, alih fungsi hutan dan lahan, membuang sampah sembarangan, dll. Menjadi ancaman yang nyata akan keberlangsungan padang lamun bagi habitat duyung. Sulit bagi duyung untuk berkembang biak dan hidup dengan aman apabila habitatnya terganggu. Selain itu, duyung adalah mamalia laut yang dilindungi tapi masih banayk diburu oleh orang-orang kurang bertanggung jawab. Ini menjadi fokus penting bagi masyarakat Indonesia khususnya. Edukasi akan pentingnya padang lamun bagi dugong dan ekosistemnya sangat penting dilakukan untuk menyadarkan masyarakat. Semua terlibat untuk memulihkan keadaan padang lamun di Indonesia, mulai dari pemerintah, lembaga swasta, scientist, jurnalis, mahasiswa, bahkan pelajar sekalipun. Karena penyebab utama kerusakan adalah ulah manusia, mari mulai memperbaiki perilaku kita pribadi dengan tidak membuang sampah sembarangan demi habitat lamun bagi pesisir yang lebih baik. Lamun, tempat tinggal dugong pun kelak akan kembali asri dan lestari, sehingga dapat menunjang proses ekologis yang baik bagi negara kita, Indonesia.


Referensi
http://lipi.go.id/
https://drive.google.com/open?id=1kFHqh1mEo4LGb5D-NMjosdqCXx5k4JDm
Umar Tangke. 2010. Jurnal Ilmiah agribisnis dan Perikanan: Ekosistem Padang Lamun. Ternate : UMMU-Ternate.

Referensi Gambar :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQsJx6oqSeWuJBc5JlIhw-_8fo_nbK7xQr_Nxw6l1riltK5P4EEk2TI5nERlunPG0FXhEb_LyLw3-SAixzGf6zygEM_DBZ9jTtPBCG8cQoakxwIGQQY0QkK9kKJ-pkXcmeBjPbrNDepcQ/s1600/padang+lamun+zoom.jpg
http://jagabhumi.com/padang-lamun-indonesia-harus-tetap-dilestarikan/
https://s.kaskus.id/images/2018/04/26/8490746_201804260704020216.jpg